AMBON - Thursday, 23 May 2013

  • Search
    • Selamat Datang

      Situs ini dibuat untuk saling melengkapi informasi tentang Maluku di internet.

      Harapan kami semoga mendapat apresiasi dan tanggapan balik demi melengkapi content yang telah ada.

      MEna...


  • Contact
    • Contact Us






    • Contact Info

      RUMAHTIGA - AMBON
      MALUKU - INDONESIA

      info@malukueyes.com

      0911-3884012

You are here: Legend Hero Mengenang Utha Likumahuwa (1955-2011)

Mengenang Utha Likumahuwa (1955-2011)

UTHA-by-hono-ms-3

NEGERI ini kembali kehilangan penyanyi terbaik. Utha Likumahuwa menghembuskan nafas terakhirnya pukul 13.10 WIB, Selasa (13/9). Penyanyi asal Maluku itu telah ikut membesarkan dunia tarik suara tanah air dan telah pula mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional.

Di Klaten Jawa Tengah, 29 tahun lalu, digelar Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI). Malam itu, Andre Hehanusa diperbincangkan karena karyanya, “Kisah Kehidupan” jadi lagu terbaik. “Kisah Kehidupan” dibawakan Utha Likumahuwa (55) dan Trie Utami di FLPI. Disiarkan langsung TVRI, ditonton berjuta pasang mata.

Dewan juri terkesima dengan teknik dan penjiwaan duet maut ini. Tidak lama setelah itu, salah satu juri, Titik Puspa diberi mandat mengumumkan penyanyi berpenampilan terbaik. Titik menyebut Utha Likumahua dan Trie Utami. Segenap undangan dan pemirsa bertepuk tangan, menyaksikan sejoli macan festival. Iie, begitu Trie Utami sering disapa, menerima hand bouquet.

Piala belum diserahkan. Jelang penyerahan piala, juri menyampaikan ralat. Penampil terbaik bukan Utha dan Iie, melainkan Harvey Malaiholo. Penonton terenyak. Para kuli tinta tercekat. Setelah seantero negeri telanjur menyambut Utha-Iie, ternyata muncul juara sebenarnya, Harvey. Entah apa alasan dikumandangkannya ralat. Yang jelas, Harvey juara sejati. Bukan Utha. Bukan Iie.

utha-djadul-repro-by-hono-m

Yang paling merasa bersalah, tentu Titiek Puspa. “Hampir seminggu, Mbak Titiek menelepon saya dan Iie. Beliau minta maaf sedalam-dalamnya. Padahal saya tahu bukan Mbak Titiek yang salah. Dia bilang: Nak, maaf ya untuk kesalahan di FLPI. Saya jawab: Enggak apa-apa Tante. Tante tidak salah,” kenang Utha saat mengobrol dengan kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Senin (15/11).

“Saya enggak gila hormat. Tidak gila hadiah. Orang tahu siapa pemenang malam itu. Saya dan Iie, ikut festival bukan untuk bertanding, tapi meluapkan isi hati,” begitu Utha berujar. Hingga kini, ia tidak tahu alasan panitia meralat kemenangannya. Kabar kabur yang beredar, malam itu adalah kali terakhir Harvey ikut festival. Piala FLPI 1991 yang diterima Harvey hendak dijadikan piala terakhir.

Ini bukan salah Harvey. Panitia yang terkesan bingung tentukan pilihan. “Hubungan saya dan Harvey sampai sekarang masih baik. Penampilan Harvey malam itu juga bagus kok. No hard feeling,” imbuh suami Debbie Farida. Inilah noda terbesar FLPI.

“Piala Itu Tak Pernah Sampai ke Tangan Saya”
Insiden tak berhenti sampai di sini. Masih ingat hit fenomenal “Sesaat Kau Hadir”? Lagu yang melambungkan nama Utha itu rupanya menggores luka di hatinya. Bermula dari inisiatif sekelompok musisi dengan dukungan pemerintah, mendaftar beberapa lagu ke ajang The 6th Asean Song Festival di Filipina. Dua nomor yang mewakili Indonesia, “Sesaat Kau Hadir” dan “Pesta” oleh Elfa’s Singers.

Penampilan Utha memukau para juri. “Sesaat Kau Hadir” memenangkan kategori Grand Prix. Biasanya, peraih Grand Prix tampil lagi menjelang akhir acara. Utha menanti penampilan keduanya dengan sabar. Sayang, kesempatan itu tak pernah datang sampai sekarang. Penampilan di ujung acara justru di isi rekan senegaranya.
“Saya tidak tahu alasannya. Saya terima dengan legawa. Yang jelas, ada seseorang yang sampai sekarang merasa bersalah jika bertemu saya. Dialah yang turut membidani insiden itu. Dia memotong jalan saya. Harusnya pemenang Grand Prix tampil, bukan Outstanding Performance,” Utha menukas.

“Ironisnya lagi, Piala Grand Prix itu tidak pernah sampai ke tangan saya maupun Budi Bahtiar dan Adi Murdianto (pencipta lagu ‘Sesaat Kau Hadir’-red). Saya tidak pernah menanyakan ke panitia kontingen Indonesia, kemana perginya piala itu. Biarlah,” imbuh pelantun “Aku Pasti Datang”. Dua pengalaman ini membuat ayahanda Inne dan Rani Likumahua belajar berjiwa besar.
Apa pun intrik yang dimainkan, kebenaran tidak mungkin terhapus. Buktinya, lagu “Sesaat Kau Hadir”-lah yang dibuat versi Bahasa Tagalog. Dalam versi Filipina, hit ini menjadi “Gusto Kita”, dinyanyikan Gino Padilla. “Biar masyarakat yang menilai. Merekalah juri paling objektif,” sambung Utha merentang rasa sabar.

Tak Lekang Dimakan Zaman
Sekadar kilas balik, kiprah Utha dimulai pada 1973. Utha menjajal peruntungan saat mewakili Maluku di tingkat nasional ajang World Popular Song. Namanya kemudian sejajar dengan Broery Pesolima, Margie Segers, Swesti Wirabuana, dan Trio Bimbo.

Sejumlah hit meluncur dari pita suara Utha. “Untuk Apa Lagi”, “Esok Kan Masih Ada”, “Sesaat Kau Hadir”, “Tersiksa Lagi”, “Puncak Asmara”, dan “Mungkinkah Terjadi”. Ada dua solois wanita yang memikat hatinya. Vina Panduwinata dan Trie Utami. Bersama Iie, Utha mewakili Ibu Pertiwi di kancah ABU Golden Kite Song Festival di Kuala Lumpur pada 1993.
Kemenangan Utha dan Iie di Kuala Lumpur membawa dampak besar. “Kami diundang sebagai bintang tamu di stasiun televisi NHK Jepang. Kami tampil live diiringi orkestra membawakan lagu “Bila” karya Josie Hitijahubessy dan Olvy Heumasse,” demikian Utha mengenang. Di usianya yang lewat setengah abad, Utha tidak pernah menurunkan kualitas vokal.

Bulan lalu, pemilik album Nada Dan Apresiasi tampil di Sidney Opera House bersama Addie MS. Konon, Utha menjadi penyanyi Indonesia pertama yang tampil di gedung bersejarah itu. Namanya tercantum di sana. Tidak heran jika Utha dilibatkan dalam Djakarta Artmosphere 2010 bersama God Bless, Oddie Agam, dan Gugun Blues Shelter.

Baginya, pengakuan dewan juri dan piala bukan harga mati. Menang tanpa piala, tidak masalah. Populer tanpa meninggalkan nama pun tidak masalah. Biarlah karya-karya abadi berbicara lantang. Lagu-lagu Utha tak lekang dimakan zaman.

Pertengahan tahun ini, Utha sempat manggung di sebuah mal. Seorang penyanyi muda menghampirinya.

“Om, saya heran. Pada waktu Om rekaman dulu, teknologi kan belum sehebat sekarang. Kok Om Utha dan Dian Pramana Putra bisa bikin lagu-lagu ngehit, ya?” Belum sempat Utha menjawab, si penyanyi muda berujar lagi.

“Om, izinkan saya mendaur ulang satu atau dua lagu Om, ya?”

Utha tersenyum lalu menganggukkan kepala. Si penyanyi muda sangaaat gembira. Ia merasa terhormat jika bisa membawakan lagu lawas Utha. Nama si muda itu, Afgan Syahreza.***


Utha Likumahuwa Telah Tiada

KOMPAS CETAK — Utha Likumahuwa, penyanyi yang populer dengan lagu ”Esok Kan Masih Ada” itu, telah tiada. Utha meninggal pada Selasa (13/9) pukul 13.11 di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, dalam usia 56 tahun. Jenazahnya disemayamkan di rumah keluarga di Vila Mutiara, Ciputat, Tangerang, dan rencananya akan dikebumikan pada Rabu (14/9) di Cipaku, Bogor, Jawa Barat.

Pria kelahiran Ambon, Maluku, 1 Agustus 1955, ini meninggalkan istri, Debbie Likumahuwa, dan anak, Hari Rani Likumahuwa.

Data yang dihimpun dari pihak keluarga menyebutkan, Utha terkena stroke pada Juli saat berada di Pekanbaru, Riau. Ia sempat dirawat selama lima Minggu. Sejak itu Utha tidak dapat berkomunikasi secara lisan.

Utha mulai populer pada awal era 1980-an lewat album Nada dan Apresiasi terbitan 1982. Lewat album yang melibatkan gitaris Jopie Item, saksofonis Embong Rahardjo, serta Christ Kayhatu ini, Utha memopulerkan lagu Maluku, ”Rame-Rame” serta ”Tersiksa Lagi”. Album ini menjadi bagian dari tren pop jazz dalam musik industri di Tanah Air era 1980-an.

Selanjutnya Utha populer lewat sejumlah lagu, seperti ”Esok Kan Masih Ada” (1983), ”Aku Pasti Datang (1985), ”Puncak Asmara” (1988), serta ”Mungkinkah Terjadi” (1990), yang dibawakan bersama Trie Utami.

Utha pada tahun 2009 masih membuat album Kembali yang berisi lagu lama yang dibuat versi baru. Ia bahkan berencana membuat album bersama kakaknya, Benny Likumahuwa, dan keponakan, Barry Likumahuwa. Utha memang berasal dari keluarga pencinta musik jazz. Benny adalah musisi jazz kawakan dan Barry adalah pemetik bas jazz muda andal saat ini.

Tonggak

Musisi jazz Idang Rasjidi menyebut Utha sebagai salah satu tonggak musik pop jazz penting dalam industri musik di Indonesia. Utha yang mempunyai dasar jazz kuat memberi nuansa jazz pada lagu pop. ”Jazz tetap terasa karena dia sering mengambil blue note, notasi jazz, tanpa mengklaim sebagai penyanyi jazz,” kata Idang.

Addie MS, musisi yang pernah berkolaborasi dengan Utha dalam sejumlah album, mencatat, Utha mampu membawakan lagu dengan sentuhan jazzy dan menyuguhkannya ke penikmat musik pop dengan sangat nyaman. ”Utha memperkaya musik pop Indonesia dengan pilihan rasa yang lain. Sebuah musik pop yang berbeda. Dia berani mengambil risiko itu,” kata Addie. ”Utha mempunyai sikap bermusik yang jelas,” ujarnya.

Jantan

Utha dikenal dengan karakter suara yang khas dan kuat. Idang mencatat Utha sebagai penyanyi dengan vokal berkarisma. Addie MS menyebut karakter dan warna vokal Utha sebagai sangat laki-laki dan jantan. Karakter vokal yang termasuk jarang saat ini.

Kemampuan vokal Utha pernah mendapat penghargaan. Bersama Elfa’s Singers, misalnya, Utha merajai Festival Musik Pop ASEAN 1989 di Manila, Filipina. Lagu ”Sesaat Kau Hadir” ciptaan Bachtiar-Adino dan ”Kau Kasihku” ciptaan Tonny Sianipar menyabet semua kategori ajang festival.   (SIE/XAR)

 Read: 382 times

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2011 MALUKU EYES
by: SCRIPT DIGITAL

Secured by Siteground Web Hosting