EKSPEDISI CINCIN API
S
ebuah hikayat tentang negeri hilang ditelan gelombang terus dikenang. Kisah itu tiap tahun diperingati warga sebagai pelajaran untuk bersiaga menghadapi bencana yang dikhawatirkan kembali melanda. Namun, pemerintah menutup mata.
”Tanah goyang (gempa) terjadi pukul 01.00 tengah malam, 29 Februari 1899.” Jonas Kaihena (81), tokoh adat Negeri (Desa) Elpaputih, Seram Bagian Barat, Maluku, memulai kisahnya pada suatu sore gerimis di pengujung Juni 2012.
![Seorang anak menikmati suasana sore, dengan latar belakang gulungan ombak di selatan Pulau Seram yang menghadap ke Laut Banda, di Negeri Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Senin (25/6). Gempa bumi dan tsunami pada 1899 menenggelamkan Negeri Elpaputih dan menewaskan sekitar dua pertiga penduduk. [KOMPAS/PRIYOMBODO]](http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2012/07/28/4825639p.jpg)
Sore itu Negeri Elpaputih disaput mendung. Dari ruang depan rumahnya, ombak terdengar bergemuruh saat Kaihena melanjutkan kisahnya, ”Lalu, datang ombak besar bergulung- gulung. Ada tiga ombak. Cepat datangnya, orang bangun karena gempa, air su di depan mata. Mau lari juga tak akan selamat.”
Banyak orang hanyut dan tersangkut di atas pelepah sagu. Setelah air surut, daratan di Negeri Elpaputih menghilang. ”Air surut sambil membawa kampung kami dan segala isinya,” tutur Kaihena.
Menurut Kaihena, Elpaputih dulu ramai penduduk. ”Ada 9 lorong. Ada 5.000-an penduduk. Setelah kejadian itu tinggal 1.500 orang,” katanya.
Kengerian yang digambarkan Kaihena tidak berlebihan. Koran Australia, The Brisbane Courier, menulis peristiwa itu pada edisi 1 Desember 1899 dengan judul Banyak Korban Tewas, Gempa Mematikan di Hindia Timur. ”Telegram dari Makassar bertanggal 12 Oktober (1899) menyebutkan, pantai selatan Seram diterjang ombak tinggi (tsunami) dan gempa bumi. Sebanyak 4.000 orang tewas atau hilang, 500 luka. Amahai hancur total”.
Ilmu pengetahuan modern mencatat kejadian di Elpaputih itu sebagai amblesan dasar laut yang disusul tsunami, sebagaimana dicatat Latief Hamzah, Nanang T Puspito, dan Fumihiko Imamura dalam Tsunami Catalog and Zones in Indonesia (2000).
”Bagi kami, itu hukuman. Negeri kami hilang. Raja kami juga hilang. Kami menyebutnya sebagai ’Bahaya Seram’,” kata Kaihena.
Ingatan kolektif
Pengetahuan tentang Bahaya Seram juga dikenal penduduk Negeri Amahai, Maluku Tengah, yang berjarak 60 kilometer dari Elpaputih. Chrestoffel Soparue (73), tetua adat Amahai, mengisahkan, Bahaya Seram artinya air laut masuk hingga 200 meter ke darat dan menghancurkan negerinya pada 1899.
Raja Amahai W Hallatu dan Raja Ihamahu W Lisapaly dari Pulau Saparua, yang saat itu sedang berada di Amahai untuk mengambil kayu guna pembangunan gereja di desa beserta 60 warga Ihamahu, turut menjadi korban. Lebih dari 300 orang meninggal.
Kampung Amahai yang ada saat ini, yang dikenal sebagai Amahai Kristen, berjarak sekitar 300 meter dari kampung lama yang tenggelam. Gereja yang ada sekarang dan menjadi pusat kegiatan negeri, menurut Soparue, dibangun di atas lokasi pengungsian saat itu.
Sebagian warga Amahai Islam yang dulu berada di bagian barat Negeri Amahai pindah ke tempat lebih tinggi meski masih di tepi pantai. Dipimpin Raja Amahai Islam, Abdul Latarissa, mereka berpindah sekitar 6 kilometer ke arah timur Negeri Amahai saat ini dan dinamai Negeri Rutah yang merupakan singkatan dari frasa Runtuhan Amahai. Di belakang kampung itu ada bukit. ”Orangtua kami memilih tempat ini agar mudah lari ke bukit kalau terjadi gempa,” kata Adnan Latarissa (85), tetua adat Negeri Rutah.
Kekhawatiran akan terulangnya tsunami masih menghantui warga Rutah dan Amahai. ”Kabarnya, gempa akan terulang lagi setiap 100 tahun. Apakah benar?” ujar Soparue dengan nada cemas.
Ancaman bencana
Gempa yang menimbulkan patahan yang memicu terjadinya amblesan tanah dan tsunami masih mungkin terjadi di Seram. Pulau terbesar di Provinsi Maluku ini terletak pada daerah pertemuan lempeng Eurasia di barat, Australia di selatan, Pasifik di timur, dan Lempeng Laut Filipina di utara.
Utara Seram merupakan zona subduksi Busur Banda. Busur ini membentang dari Pulau Sumbawa ke Pulau Timor, melengkung berlawanan arah jarum jam ke arah utara melewati Pulau Seram dan membentang ke barat hingga Pulau Buru.
Busur Banda di utara Pulau Seram ini bergerak ke selatan dengan kecepatan 35 milimeter per tahun. Sementara di selatan Seram terdapat patahan yang bergerak ke utara dengan kecepatan 11 milimeter per tahun.
Ringkasan Hasil Studi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010 menunjukkan, wilayah Seram dipenuhi jejak gempa berkekuatan lebih dari 5 skala Richter dari tahun 1900-2009. Data seismik Survei Geologi AS (USGS) menunjukkan, gempa di Seram selama tahun 1990 sampai sekarang rata-rata berkekuatan sekitar 5 skala Richter dan kedalaman 0-70 kilometer.
Sebagai salah satu zona subduksi utama, gempa tektonik yang memicu terbentuknya patahan dan amblesnya tanah hingga memunculkan tsunami berpotensi terjadi di Seram.
Amblesan tanah yang dipicu gempa itu hingga kini sering terjadi. Gempa besar terakhir di Elpaputih terjadi pada 28 Januari 2006. Gempa berkekuatan 7,2 skala Richter di Laut Banda itu menyebabkan patahan sepanjang 40 meter dengan kedalaman 1-3 meter di bibir pantai Teluk Elpaputih.
Namun, banyak anak muda tidak paham lagi Bahaya Seram. Bahkan, banyak yang menganggapnya sebagai dongeng. ”Tsunami yang menghantam Aceh tahun 2004 menyadarkan kami bahwa Bahaya Seram itu nyata,” kata Ketua Saniri (Badan Permusyawaratan Desa) Amahai, Benjamin Lasamahu (41).
Sebagai upaya mitigasi, para tetua Amahai dan Elpaputih setiap tahun menggelar doa bersama untuk mengenang kehancuran negeri akibat Bahaya Seram. Di Amahai, peringatan dilakukan dengan mengunjungi tugu peringatan Bahaya Seram yang dibangun tahun 1995. ”Ini untuk mengingatkan masyarakat agar waspada,” kata Soparue.
Di Rutah, para tetua adat membangun gerbang desa dengan tulisan yang merekam kejadian tsunami dan sejarah negeri. Pintu gerbang ini menjadi penanda terbentuknya Rutah.
Mengenang kejadian yang memilukan memang diperlukan, tetapi yang lebih penting menggali nilai di balik peringatan itu. Bahaya Seram memang telah menjadi legenda yang diturunkan dari generasi ke generasi, tetapi upaya pemerintah untuk memitigasi bencana nyaris tak terlihat.
Karakter desa-desa di seluruh Maluku berada di pinggir pantai dengan jalan utama sejajar pantai. Sebagian desa memiliki perbukitan atau gunung di belakang desa yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri saat tsunami datang. Namun, jalur evakuasi hingga kini nyaris tak tersedia.
[M Zaid Wahyudi/Ahmad Arif]
EKSPEDISI CINCIN API
Harum Rempah, Derita Petani [3]
C
engkeh afo II yang tumbuh meraksasa di lereng Gamalama itu sekarat. Batangnya mengering, hanya menyisakan satu cabang yang berdaun. Seperti nasib afo II, kejayaan cengkeh Maluku pun nyaris tamat.
Tembok memagari afo II. ”Pertumbuhan akarnya terganggu tembok itu hingga mati. Yang menembok (dinas) pariwisata tanpa koordinasi,” kata Tatang Bachtiar, Kepala Seksi Perlindungan Pascapanen dan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian Ternate.
![Pohon cengkeh afo berusia lebih dari 200 tahun hidup di Desa Air Tege-Tege, Kecamatan Ternate Tengah, Ternate, Maluku Utara, Selasa (3/7). Cengkeh dan pala merupakan komoditas andalan warga di lereng Gunung Gamalama, Ternate. [KOMPAS/HERU SRI KUMORO]](http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2012/07/27/4822135p.jpg)
Tinggi batang afo II mencapai 30 meter dan berdiameter dua kali pelukan tangan orang dewasa. Ini mengabarkan tentang usianya yang lebih dari 300 tahun.
Kematian afo II merupakan kerugian besar karena cengkeh ini merupakan keturunan afo I, yang dipercaya sebagai nenek moyang pohon cengkeh di dunia. Afo I mati dan roboh pada 1989 dalam usia sekitar 400 tahun.
Tanah asal
Cengkeh adalah tanaman asli Maluku, tepatnya dari deretan pulau gunung api: Ternate, Tidore, Makian, Moti, dan Bacan. Adapun pala berasal dari Kepulauan Banda.
”Banyaknya variasi jenis cengkeh dan pala di Maluku menunjukkan tanaman itu asli sana,” kata Muhamad Hadad, pensiunan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Kementerian Pertanian. Selain afo, Maluku juga memiliki cengkeh tibobo, tauro, sibela, indari, air mata, dan dokiri.
Cengkeh dan pala, menurut Hadad, memiliki karakter hampir sama. Mereka tumbuh subur di lereng berketinggian 500-700 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini juga cocok di iklim panas bercurah hujan merata sepanjang tahun dan butuh tanah gembur. Lerengan membuat akar tanaman terus dialiri air.
Karakter inilah yang membuat lereng Gunung Gamalama, Kie Besi, Ibu, dan gunung-gunung api di Maluku lainnya cocok ditanami cengkeh dan pala tanpa perawatan khusus.
”Abu vulkanik membuat tanah jadi subur. Magnesium, kalsium, natrium, dan kalium yang terkandung di dalamnya membuat cengkeh dan pala tumbuh subur,” kata dosen ilmu tanah Fakultas Pertanian Universitas Khairun, Buhari Umasugi.
Di Maluku, petani tak perlu memupuk cengkeh atau pala. ”Kami tinggal tunggu panen,” ujar Razak Hasein (38), petani Waigitang, Pulau Makian.
Selain ancaman bahaya yang kerap dikirim gunung api, alam juga memberkahi Maluku dengan tanah yang menumbuhkan cengkeh dan pala. Pada masa lalu, Maluku yang dikenal sebagai ”Kepulauan Rempah” adalah pulau impian yang menjadi tujuan pelayaran bangsa Eropa. Saat itu, harga dua jenis rempah ini setara dengan emas.
Timpang
Namun, menurut dosen agronomi Fakultas Pertanian Universitas Khairun, Kuad Suwarno, pala dan cengkeh tak pernah memberikan kemakmuran kepada rakyat Maluku. ”Pada masa kesultanan, para sultan yang meraup untung dari perdagangan rempah,” katanya. Kemudian datang Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda yang silih berganti memonopoli, bahkan kemudian menjadi alasan untuk menjajah Nusantara. ”Rakyat justru sengsara,” lanjutnya.
Pada masa Orde Baru, sistem monopoli cengkeh melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) menghancurkan harga cengkeh sehingga membuat petani kian sengsara.
Pada era reformasi dengan sistem perdagangan bebas, harga diserahkan pada pasar. ”Harga cengkeh membaik pada awal reformasi. Sebelumnya, harga cengkeh hancur akibat BPPC,” kata Purwoko (47), pedagang cengkeh dan pala di Kelurahan Moya, Ternate.
Awalnya, harga cengkeh memang membaik dan pernah menyentuh harga Rp 210.000 per kilogram. Namun, dengan posisi tawar petani yang lemah, harga rempah gampang dipermainkan pedagang.
Akhir Juni lalu, harga cengkeh di Ternate anjlok menjadi Rp 80.000 per kilogram. Harga pala pun sama saja. Pala nomor 1 dengan ukuran biji terbesar di Ternate harganya Rp 75.000-Rp 80.000 per kilogram. Padahal, harga di tingkat industri atau pedagang besar di Surabaya mencapai Rp 150.000 per kilogram.
Sementara pala nomor 2 dan 3 yang ukurannya lebih kecil harganya lebih rendah. ”Padahal, pedagang besar mengekspor pala dalam bentuk bubuk sehingga ukuran besar atau kecil sebenarnya tidak berpengaruh. Ini akal-akalan saja,” ujar Kuad.
Selain tata niaga yang amburadul, menurut Kuad, rendahnya perhatian pemerintah terhadap petani cengkeh dan pala juga ditunjukkan dengan lambatnya pengembangan tanaman ini. Pembinaan terhadap petani pun sangat kurang sehingga kualitas cengkeh dan pala yang dihasilkan terus menurun.
”Pemerintah justru lebih senang mengembangkan sawit, tanaman asli Brasil, ke seluruh Indonesia,” kata Hadad. Padahal, sawit umumnya dikelola industri besar, sedangkan cengkeh dan pala dibudidayakan petani kecil.
Kualitas cengkeh Indonesia pun kini kalah dari Zanzibar, daerah semiotonom di Tanzania. Adapun kualitas pala Indonesia kalah dari Grenada di Kepulauan Karibia.
Padahal, bibit cengkeh Zanzibar dan pala Grenada diselundupkan kapten Perancis dari Maluku pada 1769. Cengkeh itu kemudian dibawa ke Mauritius, lalu dibawa ke Reunion, sebelum akhirnya disebarkan ke Zanzibar dan Grenada.
Saat ini, cengkeh yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis zanzibar, siputih, sikotok, dan ambon. Cengkeh zanzibar didatangkan Belanda pada 1932. Kemudian cengkeh zanzibar menyebar luas di Indonesia, termasuk di Maluku.
Padahal, menurut Kene Tomaito (63), petani dari Desa Air Tege-Tege, Marikurubu, Ternate, produksi cengkeh jenis afo jauh lebih tinggi. Panen cengkeh jenis ini biasanya dua tahun sekali, sedangkan panen raya empat tahun sekali.
”Satu pohon bisa 40 kilogram sekali panen. Afo ini bagus karena rimbun buahnya, banyak minyaknya, dan tahan penyakit,” katanya.
[M Zaid Wahyudi/Ahmad Arif]
EKSPEDISI CINCIN API
Hidup Bertaut Maut di Kepulauan Rempah [2]
A
ngin musim timur mengirim gelombang raksasa, seperti hendak melahap perahu Ay Manise. Hujan mulai turun dan langit hitam menaungi Laut Banda. Namun, penumpang perahu yang lain justru menertawakan kami yang memakai pelampung.
Perjalanan dari Pulau Banda Neira ke Pulau Ay pada akhir Juni 2012 itu seperti bertaruh dengan maut. Perahu sepanjang 10 meter itu diayun gelombang tiada henti. Tinggi gelombang mencapai 2 meter, melebihi atap perahu. Musim angin timur di Laut Banda, Provinsi Maluku, memang mengerikan.
Samudia, nakhoda kapal, mengarahkan perahu mengikuti alunan gelombang. Ia tahu betul, jika perahu menabrak dinding air, risikonya maut. Perahu bisa terempas, bahkan bisa remuk dihantam gelombang.
Bagi Samudia dan warga Kepulauan Banda, tinggi gelombang itu tidaklah merisaukan. Namun, bagi kami, itu cukup merontokkan nyali. Ketika kemudian kami mengenakan pelampung yang kami bawa, para penumpang lain pun tertawa.
”Takut ya, Mas,” demikian gurauan Nurisma Sudin (31), warga Pulau Ay yang baru dari Banda Neira berbelanja kebutuhan pokok.
Berita tenggelamnya Kapal Motor (KM) Putri Ayu di perairan Maluku beberapa hari sebelumnya tidak membuat warga khawatir. Pada 17 Juni 2012, KM Putri Ayu tenggelam dan menewaskan lebih dari 20 penumpang. Sebelumnya, Januari 2012, perahu cepat Inarissa juga tenggelam di perairan sekitar Pulau Seram dan menewaskan 4 dari 20 penumpang.
”Kami sudah biasa karena mau tidak mau untuk menjual pala dan cengkeh atau belanja kebutuhan pokok harus ke Neira,” katanya.
Pilihan warga memang terbatas. Tidak banyak perahu yang melayani rute Neira sebagai ibu kota Kecamatan Banda ke Pulau Ay. Selain Ay Manise, ada dua perahu lain yang melayani jalur ini. Ketiganya hanya berlayar satu kali setiap hari.
”Sebelumnya, ada lima perahu yang melayani jalur ini, tetapi sejak setahun lalu tinggal tiga,” ujar Samudia. Meski berisiko tinggi, tarif pelayaran Neira-Ay relatif murah, Rp 20.000 pergi-pulang.
Perahu seperti milik Samudia menjadi andalan warga kepulauan untuk mengangkut hasil kebun seperti pala dan cengkeh ke Banda Neira, bersekolah, atau ke dokter.
”Dengan perahu-perahu itu, lalu lintas bahan-bahan kebutuhan pokok dan hasil bumi rakyat bisa lancar dari dan ke tujuh pulau berpenghuni di Banda,” ujar Muksin Assagaf, Sekretaris Kecamatan Banda.
Tujuh pulau itu adalah Neira, Banda Besar, Ay, Run, Hatta, Gunung Api, dan Syahrir, yang berpenduduk 19.532 orang. ”Mau naik apa lagi kalau bukan perahu ini,” kata Nurisma.
Sayangnya, keberanian, kenekatan, atau keterpaksaan warga dan pemilik perahu di perairan Kepulauan Maluku terkadang harus dibayar dengan sangat mahal. Ketiadaan alat keselamatan, seperti pelampung, sering berakibat fatal.
Sejarah kepulauan
Warga mau tak mau harus ke Banda Neira untuk menjual hasil kebun dan berbelanja kebutuhan pokok. Akibatnya, harga sering melambung tinggi saat kapal kesulitan berlayar ketika laut tak bersahabat. ”Bensin bisa Rp 10.000 per liter, beras Rp 500.000 per 50 kilogram, dan gula Rp 16.000 per kilogram,” ujar Nurisma.
Sarana kesehatan dan pendidikan juga sangat minim. Di Ay, misalnya, tidak ada dokter atau bidan, sedangkan sekolah hanya sampai SMP. ”Perahu-perahu juga berjasa membawa orang sakit ke rumah sakit,” kata Raja (Kepala Desa) Ay Ahmad Yani Dauru. Menurut Ahmad, sejak setahun ini tidak ada tenaga medis di pulau itu.
Hidup memang tak mudah di Kepulauan Banda yang pada masa lalu kerap dinamakan ”Kepulauan Rempah”. Selain tiadanya tenaga medis, di Pulau Ay juga tidak ada listrik dan sumber air bersih. Warga harus bergantung pada air hujan untuk minum. Pada musim kemarau mereka terpaksa harus naik perahu hingga ke Pulau Neira untuk mencari air bersih.
Kehidupan serba sulit di Pulau Ay dan sejumlah pulau lain di Kepulauan Banda sangat kontras dengan cerita kejayaan pala ratusan tahun lalu. Saat itu, pala menjadi rebutan bangsa Barat, Portugis, Belanda, dan Inggris, yang berperang demi menguasai komoditas dunia paling berharga yang hanya ada di Kepulauan Banda.
Pulau Run, yang berada satu jam dari Pulau Ay, menjadi salah satu pusat pertarungan Belanda dan Inggris untuk memonopoli perdagangan pala. Pada 1600-an, saat sekantong pala harganya setara dengan sekantong emas, Pulau Run dihargai lebih tinggi daripada Manhattan, pulau tempat kota New York saat ini berada.
Setelah peperangan berdarah memperebutkan Run, akhirnya kedua negara bersepakat mencari kompromi. Permusuhan dihentikan pada 1667 dengan Traktat Breda. Salah satu prinsip dari traktat itu bahwa Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run dan menyerahkannya kepada Belanda.
Sebagai gantinya, koloni Belanda, Nieuw Amsterdam di Pulau Manhattan, harus diserahkan kepada Inggris. VOC sepertinya diuntungkan dengan menancapkan kekuasaannya dalam monopoli perdagangan pala dunia.
Inggris kemudian mengganti nama Nieuw Amsterdam menjadi New York. Kini, New York menjadi salah satu pusat budaya dan perdagangan dunia. Adapun Pulau Run, seperti juga Pulau Ay, dan pulau-pulau lain di ”Kepulauan Rempah” tetap berada dalam ketertinggalan. Warga harus berjibaku melewati perairan ganas demi mendapatkan kebutuhan dasar hidup mereka.
[M Zaid Wahyudi/Ahmad Arif]
EKSPEDISI CINCIN API
Wangi Cengkeh di Zona Bahaya Gamalama [1]
B
unga cengkeh dan fuli mencipta rona kuning kemerahan pada pepohonan di jalur pendakian Gunung Gamalama. Tanah yang bertabur rempah menguarkan aroma wangi, menutupi jejak kelam Gamalama.
Masih pukul 06.45. Udara di lereng Gamalama pada akhir Juni 2012 terasa sejuk. Langit pun cerah. Kami memulai perjalanan dari rimbun kebun cengkeh di Kelurahan Moya, Ternate Tengah. Layar global positioning system (GPS) menunjukkan ketinggian 284 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di kejauhan, puncak Gamalama yang berketinggian 1.715 mdpl menjulang.
![Warga Desa Togafu, Kecamatan Pulau Ternate, Maluku Utara, menjemur cengkeh di atas rumah, Kamis (5/7). Cengkeh dan pala merupakan komoditas andalan warga di lereng Gunung Gamalama. Nilai rempah yang tinggi ini menjadi salah satu alasan warga tetap tinggal di Gamalama meski ada ancaman letusan gunung dan lahar. [KOMPAS/HERU SRI KUMORO]](http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2012/07/25/4819728p.jpg)
Dua jam berjalan, kami beristirahat di kebun cengkeh dan pala terakhir, berbatasan dengan hutan. Ketinggiannya 925 mdpl. ”Kita sekarang sudah di Pos IV,” kata Rusmin (27), rekan pendakian dari Kelompok Pencinta Alam ”Green Air” Ternate.
Ia mengeluarkan biji pala yang dipungut di jalan. ”Pala, fuli (bunga pala), dan cengkeh yang membuat kami tinggal dekat Gamalama,” kata Rusmin.
Syahrul (22) dan Abubakar (21), mahasiswa pencinta alam dari Universitas Khairun, Ternate, menyusul. Kami istirahat di lereng Gamalama sambil menikmati udara pagi yang menguarkan semerbak cengkeh dan pala.
Cengkeh (Eugenia aromatica) dan pala (Myristica fragrans) adalah urat nadi Kota Ternate selama berabad-abad. Ternate adalah tanah asal cengkeh selain Tidore, Makian, Bacan, dan Moti. Dari kelima pulau ini pohon cengkeh menyebar. Adalah Gubernur Sipil Perancis di Mauritius, Pierre Poivre, yang menyelundupkan benih cengkeh dari Ternate tahun 1770. Dia lalu menanam cengkeh di Zanzibar, Tanzania, yang kini dikenal sebagai produsen cengkeh terbaik.
Walau mengalami pasang surut, cengkeh masih menjadi sandaran hidup warga Ternate. Asman Ali, petani cengkeh di jalur pendakian Kelurahan Marikrubu, mengatakan, setiap tahun ia memperoleh Rp 16 juta dari cengkeh.
Bahaya Gamalama
Memasuki hutan Gamalama, rumput dan semak merapat. Namun, tetumbuhan meranggas dan roboh.
Semakin mendekati puncak, jejak kehancuran akibat letusan Gamalama, 5 Desember 2011, makin kentara. Di ketinggian 1.602 mdpl, kami tiba di hamparan bebatuan dan pasir. Tak sebatang tanaman pun terlihat.
Setelah enam jam mendaki, kami tiba di puncak. Asap putih tebal menguar dari dua kepundan. Puncak itu berupa kerucut dengan kemiringan 60 derajat. Batuan yang menyusunnya melorot saat diinjak.
Kini, gundukan batuan ini meneror warga dalam bentuk banjir lahar. Dalam enam bulan terakhir, 15 orang tewas disapu lahar. Sedikitnya 150 rumah hancur dan masih ada 36 keluarga yang mengungsi di Asrama Persatuan Sepak Bola Indonesia Ternate.
Sebagian besar korban adalah pendatang dari Jawa dan Bugis. Mereka tidak memiliki memori terhadap bencana Gamalama masa lalu. ”Saat membeli tanah di sini, penjual tidak bilang kalau ini daerah rawan bencana,” kata Karyadi (56), pria asal Temanggung, Jawa Tengah, yang sudah empat tahun tinggal di tepi Sungai Tugurara, Dufa- Dufa. Separuh rumah Karyadi hancur dilanda lahar. Beruntung, ia dan keluarga selamat.
”Banjir lahar ini hanya sebagian kecil bahaya Gamalama,” kata Akhmad Zaenudin, geolog dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Gamalama, menurut Zaenudin, pernah memberikan petaka dalam berbagai bentuk letusan mematikan. Jejak letusan gunung ini terpahat di setiap lekuk Pulau Ternate. Bahkan, pulau seluas 111,8 kilometer persegi ini merupakan bagian dari tubuh Gunung Gamalama, yang kaki- kakinya berada di dalam laut. Ketinggian gunung ini jika diukur dari dasar laut mencapai lebih dari 3.000 meter.
Banyak yang salah mengira bahwa Kota Ternate ada di kaki Gamalama. Padahal, Ternate ada di lereng gunung yang dekat ke puncak. Pada masa lalu, letusan Gamalama pernah terjadi di permukiman saat pembentukan Danau Tolire Jaha (Tolire Besar) tahun 1775.
Berkah
Dimanja dengan hasil alam melimpah, masyarakat Ternate betah hidup dalam ancaman letusan gunung api. Erupsi yang berulang terjadi tidak menciutkan nyali warga untuk tinggal di kaki Gamalama.
”Letusan Gamalama memang merepotkan, tetapi ada manfaatnya,” kata Aswad H Abdullah (58), warga Desa Togafu, Pulau Ternate. ”Abu Gamala membuat cengkeh subur tanpa dipupuk.”
Pentingnya gunung api sejak lama diketahui, sebagaimana disebutkan ahli pertanian Belanda, ECJ Mohr, dalam paper-nya, The Relation Between Soil and Population Density in the Netherlands Indies (1938).
Mohr berkesimpulan, kepadatan penduduk di Indonesia ditentukan oleh kesuburan tanah dari gunung api.
Tidak mengherankan jika pulau gunung api Ternate dipadati penduduk meski bahaya selalu mengintai.
[Ahmad Arif dan M Zaid Wahyudi]





Publication

![Mengatasi Ketertinggalan dengan Politik Perdamaian [7-Habis]](http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2012/05/05/4722209p.jpg)
![Semua Penduduk Tahu, Dulu Ada Sekolah yang Dibikin Hatta dan Sjahrir [5-Habis]](/modules/mod_qmininews/images/default.jpg)






