AMBON - Monday, 21 Apr 2014

  • Search
    • Selamat Datang

      Situs ini dibuat untuk saling melengkapi informasi tentang Maluku di internet.

      Harapan kami semoga mendapat apresiasi dan tanggapan balik demi melengkapi content yang telah ada.

      MEna...


  • Contact
    • Contact Us






    • Contact Info

      RUMAHTIGA - AMBON
      MALUKU - INDONESIA

      info@malukueyes.com

      0911-3884012

You are here: Global Media Nasional Tangan Godfather di Kampung Ambon

Tangan Godfather di Kampung Ambon

ULAH tujuh orang itu benar-benar merepotkan petugas ruang tahanan Kepolisian Resor Jakarta Pusat. Dua bulan ditahan, selama itu pula mereka selalu bikin onar. Tidak hanya memerintahkan tahanan lain mencuci baju atau memijat, mereka bahkan meminta setoran. Satu orang tahanan yang notabene berstatus sama dengan mereka dikutip Rp 5-10 juta dengan dalih "biaya keamanan" di penjara.

Kelakuan "preman" itu terungkap tiga pekan lalu setelah sejumlah tahanan mengadu. Hari itu petugas menceraiberaikan mereka. Beberapa di antara mereka dititipkan di sejumlah ruang tahanan kepolisian sektor di Jakarta Pusat. "Kami tak mau ambil risiko," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Hengki Haryadi kepada Tempo, Kamis pekan lalu.

Tujuh tahanan itu dijebloskan ke penjara karena kasus pembunuhan. Mereka adalah Geret Tomatola, Toni Paceratu, Abraham Tuhehai alias Ampi, Rein Pentury, Yonky Maslebu, Relly Putirulan, dan Edward Hunok Tupessy sebagai pemimpinnya. Mereka inilah yang pada Kamis dinihari, 23 Februari lalu, menyerbu sekelompok orang yang tengah berada di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Ada tiga tersangka lain yang terlibat, yakni Jhon Robert Sopa Paliama alias Oncu dan suami-istri Heriyanto-Irene Sophia Tupessy. Dua nama terakhir tetap ditahan di Polres Jakarta Pusat.

Akibat penyerangan itu, Stanley dan Ricky Tutuboy tewas di tempat dengan belasan luka bacok menganga di kepala hingga perut. Belasan lainnya terluka terkena sabetan parang dan pedang samurai. Para tersangka kini dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup. Pekan lalu, berkas acara pemeriksaan mereka sudah dikirim ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. "Tinggal menunggu kelengkapan administrasi dan barang bukti agar segera bisa disidangkan," kata Hengki.

Edward Hunok Tupessy atau Edo, 50 tahun, merupakan salah satu tokoh di Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat. Meski kini tinggal di Depok, Edo tumbuh dan besar di Kampung Ambon. Kampung ini merupakan salah satu wilayah di dalam Kompleks Permata. "Pengaruhnya di Kampung Ambon masih sangat kuat," kata sumber Tempo. Adapun Irene adik bungsu Edo. Meski perempuan, ibu enam anak ini sangat disegani warga Kampung Ambon lainnya. Dari kediaman mereka itulah Irene dan Edo merekrut sebagian besar penyerbu RSPAD.

Salah satu bukti besarnya pengaruh mereka tampak saat Tempo mendatangi kompleks permukiman warga Ambon di Permata pekan lalu. Ketika itu, tak satu pun penduduk bersedia menunjukkan rumah Irene. Belakangan baru diketahui rumah Irene berada di Jalan Pirus Nomor 35, setelah Tempo memperolehnya dari sumber di luar Kampung Ambon. "Kalau ketahuan memberi tahu, rumah kami bisa dilempari batu," kata salah seorang warga setempat.

Edo dan Irene memobilisasi sekitar 70 orang Ambon menggeruduk RSPAD. Bersenjata parang, termasuk Irene, mereka menyerbu kelompok Edoi Kacili yang tengah melayat kakaknya yang meninggal. Pangkal muasalnya soal narkoba. Edoi membeli 3,5 ons sabu-sabu senilai Rp 280 juta dari seorang bandar. Berbulan-bulan ditagih, Edoi tak kunjung bayar. Belakangan, bandar bernama Afung itu berjanji memberi Edo Rp 100 juta jika berhasil menagih utang tersebut. Di tengah jalan, Edoi mengaku kepada Afung telah menyerahkan Rp 100 juta kepada Edo. Tak merasa menerima duit itu, Edo naik pitam. "Ia mengaku merasa difitnah," kata Hengki.

Beberapa jam setelah penyerbuan, polisi mencokok mereka satu per satu. Edo menyerahkan diri ke Polres Jakarta Pusat beberapa hari kemudian. Irene dan Heriyanto dibekuk setelah sempat bersembunyi di rumah mantan penguasa Tanah Abang, Hercules, di Indramayu, Jawa Barat, pada 4 Maret lalu. Irene menjadi sorotan karena dialah satu-satunya perempuan yang ikut penyerbuan.

l l l

Narkoba dan Kampung Ambon memang seperti tak terpisahkan. Inilah surga buat mereka yang memburu barang haram itu. Penggerebekan merupakan hal biasa bagi warga setempat.

Senin pekan lalu, misalnya, polisi menggerebek lapak judi Tasio dan narkoba di sana. Sabtu sepekan sebelumnya, penggerebekan juga terjadi. Mengerahkan seratusan petugas, dalam dua operasi itu polisi hanya menyita sepuluh butir ekstasi dan tak lebih dari satu ons sabu-sabu serta menangkap empat pengedar. "Yang lain sudah kabur," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Abdul Karim. Abdul hanya mengangkat bahu ketika ditanya kenapa operasi itu terkesan bocor. "Tidak tahu," katanya.

Ketua RT 05 di Kampung Ambon, Sandy Pasaneasaia, menyebut operasi itu hanya "penggerebekan ecek-ecek". Lapak yang digerebek berkategori kelas teri, bukan milik bandar besar. Di Kampung Ambon ada 30-an lapak narkoba. Menurut Sandy, keuntungan bersih satu lapak kecil narkoba bisa mencapai Rp 30 juta per hari. Lapak-lapak itu berada di dalam rumah yang tersebar di RT 01 hingga 07 di Perumahan Permata, yang hampir semuanya dihuni warga Ambon. "Seperti biasa, pasti polisi juga yang membocorkan operasi itu," kata Sandy kepada Tempo.

Menurut Sandy, sudah bukan rahasia lagi bahwa polisi dan TNI terlibat bisnis narkoba di kompleksnya itu. Semua warga kompleks, ujarnya, setiap hari melihat aparat tak berseragam hilir-mudik di sana. Seorang pejabat RW yang meminta namanya tak disebut menceritakan hal yang sama. Aparat itu, ujarnya, mengkonsumsi narkoba di lapak-lapak yang ada, sementara aparat lain menjual narkoba ke kampung tersebut. "Narkobanya ada yang dari hasil penggerebekan di tempat lain lalu dijual kemari," ujarnya.

Direktur Penindakan dan Pengejaran Badan Narkotika Nasional Benny Jozua Mamoto tak menampik tudingan itu. Menurut Benny, pihaknya dan polisi tahu memang ada aparat yang terlibat bisnis narkoba di sana. Di belakang aparat nakal itu, ujar dia, ada tangan-tangan yang tak terlihat. "Bukan hanya pemakai, aparat turut membantu peredaran narkoba itu," kata Benny.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Untung S. Radjab menolak kabar bahwa aparatnya terlibat. Persoalan utama yang dihadapi polisi, katanya, masyarakat tidak bisa diajak bekerja sama. Masyarakat seperti kompak di bawah perintah satu orang. Padahal, untuk menggelar operasi seperti di Kampung Ambon itu, dibutuhkan biaya sangat besar. "Kalau memang terbukti ada aparat polisi terlibat, laporkan ke saya," kata Untung.

l l l

Bisnis narkoba di Kampung Ambon tumbuh dan berkembang pesat sejak 2002. Di tempat ini pecandu dilayani bak raja sekaligus dijamin keamanannya. Di sana tersedia sabu, pil ekstasi, putaw, ganja, dan sebagainya. Saat Tempo berkunjung ke perkampungan itu pekan lalu, misalnya, pengawasan oleh anak buah pemilik lapak terlihat sangat ketat dan berlangsung 24 jam. Tiap sudut jalan diawasi satu orang yang terus memperhatikan siapa saja yang lewat. Kamera CCTV terpasang di berbagai sudut perkampungan. Tukang parkir dan tukang ojek, juga sopir taksi, turut menjadi mata dan telinga bagi para bandar. Mereka sigap saling membantu bila ada kabar akan ada penggerebekan.

Sistem "kekerabatan" seperti itu tidak terbangun dengan singkat. Menurut Romylus Tamtelahitu, yang pernah meneliti kampung ini, yang paling berjasa membangun kekompakan warga Kampung Ambon dalam menjalankan bisnis narkoba adalah Michael Glenn Manuputty, 40 tahun. "Dia yang pertama kali memperkenalkan bisnis narkoba di kampung itu," ujar Romylus.

Di sana, pada 1990-an, Michael berbisnis ganja dan menjadi bandar paling besar hingga tahun 2000-an. Sistem yang dibangun Michael sangat mengakar karena melibatkan banyak orang. Menurut sumber Tempo, orang sekelas John Kei bahkan mental saat mencoba-coba masuk lingkaran Kampung Ambon. "Bung Michael itu godfather di Kampung Ambon," kata Romylus.

Michael tersandung. Polisi menangkapnya pada pertengahan Juli 2009 di Pondok Aren, Tangerang Selatan, beserta barang bukti 375 kilogram ganja, 60 gram sabu-sabu, dan puluhan butir ekstasi. Ia dihukum penjara seumur hidup. Kini godfather Kampung Ambon ini menghuni Penjara Tangerang. Di sana ia tetap dihormati. Narapidana lain memanggilnya "Papi".

Tak peduli Michael seorang bandar, banyak penduduk merasa kehilangan atas penangkapannya. Itu karena dia disegani dan dianggap bisa mengayomi semua kelompok yang ada di Kampung Ambon. "Bung Michael tak pelit, selalu memberi uang bila ada yang butuh meski ia tak kenal," kata Sandy.

Pemilik lapak narkoba di Kampung Ambon rata-rata memang tak pelit berderma, terutama untuk kegiatan beribadah. Pendeta Lieke Hehanussa-Sahetapy, pemimpin Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Silo, Cengkareng, yang lokasinya di tengah Perumahan Permata, mengatakan uang kas gerejanya kini mencapai Rp 400 juta. Padahal dua tahun lalu hanya ada Rp 90 juta. "Kami tak pernah meminta dan tak bisa melarang mereka menyumbang," ujar Lieke.

Setelah Michael dipenjara, menurut sumber Tempo, takhta godfather beralih ke Edo serta Irene sebagai godmother. Kakak-adik ini menguasai perdagangan narkoba di Kampung Ambon bersama bandar lainnya. Mereka berdua sangat disegani di Kampung Ambon. Hanya, berbeda dengan Michael, Edo agak tak disukai karena kerap membuat onar. Edo dan Irene membawa nama besar kakak tertua mereka, Tedy Tupessy.

Tedy meninggal dua tahun lalu karena sakit. Semasa hidupnya, Tedy dikenal sebagai pelindung kampung itu. Bila ada penduduk berurusan dengan polisi, Tedy-lah yang turun tangan membebaskan mereka. Berbeda dengan Michael, Tedy tak berbisnis narkoba, hanya melindungi. "Edo dan Irene yang menjalankan bisnis narkoba," kata seorang warga Kampung Ambon yang enggan disebut namanya.

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nugroho Aji Wijayanto menyatakan Edo dan Irene kini sudah tak punya "cakar" di Kampung Ambon. Penangkapan keduanya, kata Nugroho, menjadi jalan masuk pemberantasan narkoba di Kampung Ambon karena jaringan di sana tak kuat lagi. "Kini sudah tak ada lagi bandar besar di Kampung Ambon," ujarnya.

Sumber Tempo di Kampung Ambon menguatkan kesimpulan Nugroho. Menurut dia, setelah Edo dan Irene dipenjara, stok sabu-sabu di sana menurun. "Kualitasnya pun sudah kelas dua," katanya.

Namun seorang reserse yang sudah lama berkecimpung di dunia narkoba pesimistis narkoba di Kampung Ambon bisa diberantas. "Orang-orang seperti Irene dan Edo akan tetap bisa mengendalikan narkoba dari balik penjara," katanya.

Mustafa Silalahi, Pramono, Anton Aprianto


 

Hipermarket Narkoba dari Cengkareng

Awal 1990-an
Ganja dari Aceh mulai masuk ke Kampung Ambon. Saat itu baru segelintir pemuda yang memakainya.

Mei 1998
Krisis moneter melanda Indonesia. Banyak warga Kampung Ambon kehilangan pekerjaan. Beberapa dari mereka melirik bisnis narkoba.

Medio 2002
Bisnis narkoba di Kampung Ambon mulai marak.

28 Oktober 2003
Pecah kerusuhan antara warga Kampung Ambon dan warga etnis lain di sekitar kawasan itu, yang gerah terhadap bisnis narkoba di sana. Sedikitnya 27 rumah warga non-Ambon dibakar.

6 Oktober 2004
Ratusan aparat Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat menggerebek Kampung Ambon. Enam bandar ditangkap dan 64 paket ganja kering disita.

Medio 2005
Polisi menembak mati gembong pengedar ganja, Khadafi, 25 tahun, karena melawan petugas ketika dilakukan razia di kampung itu.

31 Agustus 2005
Lima ratus petugas Polres Jakarta Barat dan BNN menggelar operasi gabungan. Lima bandar kakap ditangkap, puluhan kilogram narkoba berbagai jenis disita.

28 Juni 2008
Delapan ratus personel kepolisian, BNN, dan TNI menggelar razia gabungan. Sembilan pengedar dan pemakai diringkus. Puluhan kilogram narkoba disita.

7 Agustus 2008
Petugas Polres Jakarta Barat kembali merazia kampung itu. Razia tanpa hasil karena rencana operasi itu bocor. Hanya satu mesin judi yang disita.

2009-2010
Tidak ada razia narkoba di Kampung Ambon karena terbit kebijakan BNN agar operasi seperti itu dihindari. BNN aktif melakukan penyuluhan di sana.

18 Mei 2011
Polisi kembali merazia kampung itu. Lima belas pengedar ditangkap, empat di antaranya perempuan.

8 Agustus 2011
Petugas Polres Jakarta Barat menangkap seorang anggota DPRD Lampung setelah ia mengkonsumsi narkoba di Kampung Ambon.

26 September 2011
Terjadi bentrokan antarkelompok di Kampung Ambon. Diduga rebutan lahan bisnis narkoba. Dua orang tewas.

8 Desember 2011
Lebih dari 500 personel kepolisian dan BNN menggeledah 33 rumah di Kampung Ambon karena diduga menjadi lapak narkoba. Lima puluh empat bandar dan pemakai ditangkap. Petugas juga menyita puluhan kilogram narkoba, lima senjata api (pistol), dan uang tunai Rp 11 miliar.

23 Februari 2012
Bentrokan di antara dua kelompok Ambon di RSPAD, Jakarta Pusat, karena urusan narkoba. Kelompok penyerang dikerahkan Irene Sophia Tupessy.

4 Maret 2012
Irene dan Heriyanto, suaminya, ditangkap di rumah Hercules di Indramayu, Jawa Barat.

28 April 2012
Seratus lima puluh petugas Polres Jakarta Barat merazia Kampung Ambon. Rencana operasi bocor, hasil razia nihil.

30 April 2012
Sebanyak 275 petugas Polres Jakarta Barat kembali merazia Kampung Ambon. Dua bandar ditangkap dan puluhan paket narkoba disita.

 

Para Penguasa Kampung Ambon

Nama mereka tenar di Kampung Ambon. Disegani sekaligus berkuasa.

Michael Glenn Manuputty
Pernah menjadi bandar ganja terbesar di Kampung Ambon. Ditangkap 29 Juli 2009. Kini terpidana seumur hidup kasus narkoba.

Teddy Tupessy
Dia tidak langsung menjual narkoba.Meninggal dua tahun lalu karena sakit.

Edo Tupessy atau Edo Kiting (adik Tedy Tupessy)
Bandar besar dan memiliki lapak.

Irene Sophia Tupessy (adik Tedy Tupessy)
Bandar besar dan memiliki lapak.

 

Main Kode di Kampung Ambon

Ada sejumlah istilah yang lazim dipakai pembeli dan penjual narkoba di Kampung Ambon.

PS
Pasien, pembeli, atau konsumen narkoba

Rumah cinta
Rumah tempat transaksi narkoba dengan fasilitas full music, ruangan buat mengkonsumsi narkoba, plus kamar untuk berhubungan seks

Lapak
Tempat bandar menjual narkoba

STM
Transaksi narkoba dengan bayaran pembeli mau diajak berhubungan seks oleh bandar

Jagung Ekstasi
The godfather/the godmother Bandar yang pernah atau merajai bisnis narkoba


Irene Sophia Tupessy:
Jangan Ganggu Keluarga Saya

Penampilannya jauh berbeda dengan saat ia ditangkap di Indramayu, Jawa Barat, 4 Maret lalu. Kala itu ia terlihat lusuh dan kuyu. Irene Sophia Tupessy, 45 tahun, saat ditemui Tempo di tahanannya di Polres Jakarta Pusat, beberapa pekan lalu, terlihat segar. Alisnya bercelak, wajahnya berlapis bedak, dan rambutnya pun berponi. Kendati demikian, dengan tonjolan rahang kukuh, kesan sangar memang tetap melekat pada perempuan bertinggi 160 sentimeter itu.

Irene menghadapi tuduhan berat. Ibu enam anak ini, menurut polisi, memimpin puluhan pria yang menyerbu sekelompok orang di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pada 23 Februari lalu. Ia diajak Edward Hunok Tupessy alias Edo, kakaknya. Kepada polisi, Irene menyatakan dia membantu Edo karena yang mereka serbu musuh kakaknya. Penyerbuan itu mengakibatkan dua musuh mereka tewas.

Media menggambarkan Irene bak tokoh utama film Kill Bill, yang diperankan Uma Thurman, perempuan jagoan yang selalu membantai musuhnya dengan pedang. Sejumlah saksi menyebutkan, saat "pertempuran" di RSPAD Gatot Soebroto, Irene mengacung-acungkan parang, yang sebelumnya diselipkan di balik bajunya.

Irene tumbuh dan besar di Kampung Ambon. Ia bungsu dari enam bersaudara. Saat diwawancarai, Irene didampingi Heriyanto, 38 tahun, suami keduanya. Kadang ia menggelengkan kepala dengan keras atau mengatupkan rahang jika ada pertanyaan yang agaknya tak ia sukai. Suaranya serak, tapi tegas. "Jangan hubung-hubungkan kasus ini dengan aktivitas di kampung itu," katanya kepada wartawan Tempo, Mustafa Silalahi, yang mewawancarainya.

Benarkah Anda yang memimpin penyerangan di RSPAD Gatot Soebroto itu?

Bukan.

Tapi Anda berada di sana saat peristiwa itu?

Iya, karena Edo (kakaknya) yang minta.

Di berbagai media, Anda disebut sebagai perempuan berpedang yang menyerang membabi-buta. Benar?

Itu berlebihan. Tidak ada itu!

Sebelum kejadian itu, Anda tinggal di mana?

Saya masih tinggal di Perumahan Permata (Kampung Ambon).

Anda pernah tinggal di Stovia, tempat eks tentara KNIL asal Maluku tinggal sebelum dipindahkan ke Kampung Ambon?

Ya. Saat itu saya masih kecil.

Masih ingat tahun kepindahan ke Perumahan Permata?

(Menggeleng.)

Selama masih di Stovia, benarkah keluarga Tupessy sangat disegani?

Jangan tanya saya….

Kami mendapat informasi bahwa kakak tertua Anda, Tedy Tupessy, dulu pemimpin Kampung Ambon. Benar?

Jangan kait-kaitkan dia. Dia sudah meninggal.

Siapa yang mewarisi kejayaan Tedy?

Anda mau menyelidiki keluarga saya? Mereka tidak ada hubungannya dengan semua yang terjadi saat ini. Jangan ganggu mereka. Anda tahu perasaan saya?

Anda mengenal Hercules?

(Irene diam, tak mau menjawab.)

Bukankah Tedy kenal baik dengan Hercules? Saat Tedy meninggal dua tahun lalu, Hercules mengirim bunga duka cita....

Tolong jangan bawa-bawa abang saya!

Anda dan kakak Anda dikenal sebagai pengedar narkoba? Benar?

(Irene menggelengkan kepalanya dengan cepat.)

Benar Anda punya lapak narkoba di Kampung Ambon?

(Irene menggeleng.) Heriyanto: Itu sebenarnya rumah kontrakan, dan kami tidak tahu digunakan sebagai apa. Irene dan saya disebut sebagai bandar narkoba. Apa iya seorang bandar bisa menunggak SPP anaknya sampai dua bulan? Kalau dulu, kami memang punya lapak.

Anda mengenal Michael Glenn Manuputty, tokoh paling disegani di Kampung Ambon yang kini menjadi terpidana seumur hidup kasus narkoba?

Tidak. Apa sih sebenarnya maksud Anda? (Suara Irene langsung meninggi.) Saya stres karena media terlalu membesar-besarkan kasus kami.

Sehari-hari sebenarnya apa aktivitas Anda?

Saya lebih banyak di rumah. Mengurus anak dan suami. Anak saya ada enam, yang paling tua usianya 19 tahun, paling kecil masih SD.

Siapa yang kini menjaga anak Anda?

(Irene terdiam.) Heriyanto: Saudara kami yang menjaga. Kami titipkan ke mereka. Puji Tuhan, kami dapat banyak sumbangan untuk makan dan uang sekolah mereka selama kami di sini.

Sekarang, di tahanan ini, apa aktivitas Anda?

Beribadah. Seminggu sekali saya menerima kunjungan anak-anak saya.

Pasien, Doa, dan Asap Sabu

KOMPLEKS Permata bagai mati suri. Rabu pekan lalu, belum pukul 10 malam, tak satu pun warga di luar rumah. Tak ada dentaman house music, menu keseharian permukiman ini. "Sepi, Bos. Enggak ada yang buka," kata seorang lelaki yang kami temui di sudut pertigaan.

Lelaki masygul itu berdiri mendekat. "Kalau Bos mau, bisa saya cariin, tapi barang mesti dibawa keluar," katanya. Kami mafhum, laki-laki ini menawarkan narkoba.

Dua hari sebelumnya, Kepolisian Resor Jakarta Barat menggerebek Kampung Ambon, nama masyhur kompleks seluas satu hektare di kawasan Cengkareng, Jakarta, ini. Kampung Ambon pun tiarap. Deretan "rumah cinta" julukan lapak atau rumah tempat transaksi narkoba tutup sementara. Tak ada kepastian kapan lapak-lapak beromzet total miliaran rupiah per hari ini berdenyut kembali. "Sudah dua-tiga hari sepi. Ini bisa sampai seminggu, bisa sebulan," kata lelaki itu.

Malam itu untuk kesekian kalinya Tempo menjelajahi zona merah perdagangan narkoba di Jakarta ini. Beberapa malam sebelum penggerebekan, suasana jauh berbeda. Pasien sebutan bagi pembeli dan pengguna narkoba datang hilir-mudik. Penjaja narkoba, lelaki dan perempuan berusia 20-60 tahun, menunggu di depan lapak. Deretan mobil dan sepeda motor memenuhi halaman.

Secara fisik, penampilan lapak tidak mencolok, sama seperti rumah biasa. Bedanya, rumah cinta selalu ramai dikerubuti pedagang, pasien, dan para makelar. Tak sedikit pasien yang masuk lapak sore dan baru keluar esok pagi. Peralatan nyabu dan nyuntik lengkap tersedia di dalam lapak, komplet dengan sofa nyaman, lampu remang-remang, dan musik yang superlantang.

Di antara rumah-rumah cinta itu, sebuah gedung dua lantai tampil seperti makhluk asing. Lampu terang menyinari papan namanya: Pos Terpadu Badan Narkotika Nasional.

l l l

PASAR narkoba di Kompleks Permata, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Cengkareng, Jakarta Barat, muncul akhir 1990-an. Dulu hanya ganja yang dijual, tapi sejak 2002 jenis yang dijajakan kian beragam. "Mau cari inex sampai putaw juga ada," kata Toto, bekas pengguna narkoba yang sering berkunjung ke Kampung Ambon.

Warga Jati Asih, Bekasi, ini nyaman memakai narkoba di dalam Kampung Ambon karena aman dari razia polisi. Saban kali ada penggerebekan, penjual langsung memberi tahu para pasien agar kabur. "Makanya artis dan pejabat juga sering ke sini," kata Toto.

Selebritas memang kerap singgah di kompleks ini, begitu kata seorang warga Permata. Ia menyebutkan beberapa nama. Salah satunya pelawak yang tiap malam muncul di televisi. Biasanya para artis datang sambil menutupi sebagian kepala dengan tudung jaket atau topi. "Kami sudah biasa lihat artis di sini, enggak kaget."

Ketua RT 05 Sandy Pasaneasaia membenarkan pengguna narkoba di wilayahnya berasal dari berbagai kalangan. Pengusaha, mahasiswa, artis, tentara, juga pejabat. Suatu kali, Sandy bercerita, warga memukuli pasien yang naik ke atap rumah Sandy karena dianggap maling. Setelah diperiksa, rupanya si "maling" adalah anggota Tentara Nasional Indonesia. "Sepertinya dia parno (paranoid). Dia ketakutan berlebihan akibat narkoba," katanya.

Kampung Ambon layaknya grosir bagi pedagang narkoba. Bandar-bandar dari berbagai wilayah Jakarta membeli sabu di sini karena kualitasnya dikenal bagus. Takarannya pas karena ditimbang dengan neraca digital. Harganya pun relatif lebih murah. Contohnya, harga setengah gram sabu di Kampung Ambon paling mahal Rp 700 ribu. "Di tempat lain bisa lebih mahal Rp 50-100 ribu," kata seorang bekas bandar yang dulu biasa memasok narkoba di berbagai kampus di Jakarta.

Laris-manis narkoba di Kampung Ambon memang menggiurkan. Satu lapak kecil, menurut penuturan seorang warga, bisa menangguk omzet Rp 100 juta per hari. Jika pasien berlimpah, keuntungan berlipat, dan keuntungan bersih bisa sampai Rp 30 juta per hari.

Laba jumbo memungkinkan pemilik lapak menggaji besar para pekerjanya. Sumber Tempo di Kampung Ambon bercerita, tukang bersih lapak yang juga mencuci bong alat pengisap sabu mendapat Rp 200 ribu sehari. Juru parkir mendapat upah sama, belum termasuk ongkos parkir pasien Rp 5.000. Bisa lebih dari 30 kendaraan mereka jaga tiap hari.

Juru timbang adalah profesi penting di sini. Orang yang bertugas menakar dan mengemas narkoba ini bisa berpenghasilan hingga Rp 30 juta sebulan.

Geliat narkoba juga membuka celah bisnis lain. John Robert Sopa Paliama alias Oncu, 39 tahun, membuka jasa pegadaian. Para junkie yang kehabisan uang bisa menggadaikan barang mereka di lapak milik Oncu. Harga gadai jam tangan Rp 300 ribu. Telepon seluler model terbaru dihargai Rp 1 juta.

Tak jarang pasien yang hilang akal rela menggadaikan kendaraan dengan harga murah. Berikut Surat Tanda Nomor Kendaraan, sepeda motor digadaikan Rp 1 juta dan mobil Rp 5,5 juta. Pinjaman gadai berbunga tiap hari. "Kebanyakan barang yang digadaikan enggak ditebus. Beta jual ke orang lain."

Ada juga yang menikmati kue bisnis narkoba dengan menyewakan rumahnya sebagai lapak. Ongkos sewanya Rp 4 juta per bulan, di luar biaya listrik dan air. Dan, ini yang sedap, pemilik lapak harus menyetor Rp 100 ribu tiap hari kepada pemilik rumah.

Di Kampung Ambon, rezeki narkoba mengalir ke segala arah. Bocah-bocah dengan santai meminta duit jajan kepada penjaga lapak. Permintaan ini tak pernah ditolak. "Istilahnya, mereka bagi-bagi berkat kepada warga lain," kata Sandy.

Ikatan antarwarga Kampung Ambon memang kuat, ditalikan rezeki narkoba. Menurut Direktur Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya Komisaris Besar Nugroho Aji Wijayanto, hal ini membuat polisi sulit menggerebek Kampung Ambon. Mata-mata para bandar narkoba tersebar hingga radius satu kilometer dari kompleks.

Operasi penggerebekan membutuhkan waktu tiga bulan persiapan. Desember tahun lalu, 530 personel dikerahkan ke Kompleks Permata. "Nilai narkoba yang disita mencapai Rp 11 miliar," kata Nugroho. Tapi, tetap saja, narkoba masih beredar bebas di sana.

l l l

TAK semua happy dengan kondisi Kampung Ambon. Pendeta Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Silo, Cengkareng, Lieke Hehanussa-Sahetapy, resah menyaksikan sebagian anggota jemaatnya berjualan narkoba. Ia pernah marah besar saat mendoakan jemaat yang sakit. "Saya berdoa di dalam rumah yang dipenuhi orang lagi nyabu. Asapnya ke mana-mana."

Berulang kali Lieke bersuara keras meminta jemaat tak berjualan narkoba. Toh, pendeta yang sudah dua tahun melayani di Kompleks Permata ini menyadari tak mudah bagi jemaatnya "bertobat". Sebagian anggota jemaat menggantungkan hidup mereka dari duit hasil penjualan narkoba.

Pendeta Lieke, Sandy, dan warga yang antinarkoba pun tak berharap banyak kepada polisi. Sandy mengaku kerap menyaksikan polisi kembali ke Kampung Ambon setelah mengambil barang bukti narkoba. "Mereka menjual lagi barang itu kepada pemilik lapak," katanya.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Untung S. Radjab membantah ada anggotanya menjual barang bukti. Untung menantang, "Laporkan ke saya. Pasti saya pecat."

Pramono, Mustafa Silalahi


Penggemar Pesta di STOVIA

 

Bangunan peninggalan kolonial Belanda di bilangan Senen, Jakarta Pusat, itu belum lapuk dimakan usia. Tampak dari luar seperti benteng, gedung yang kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional tersebut tak banyak mengalami perubahan. Sempat dipugar April 1973, hanya bagian atap sejumlah bangsalnya yang direnovasi.

Tak banyak yang tahu, 30 tahun silam, bangunan yang berdiri di kawasan seluas 1,5 hektare itu pernah menjelma menjadi sebuah hunian padat. Ketika itu, 400-an warga Ambon tinggal di bekas gedung Sekolah Kedokteran Bumiputra atau lebih dikenal dengan nama STOVIA tersebut. "Ada beberapa orang yang masih kerap datang kemari hanya untuk bernostalgia," kata Isnudi, kepala seksi koleksi dan edukasi museum itu, Kamis pekan lalu.

Karena bangunan itu hendak digunakan sebagai cagar sejarah, Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, memindahkan warga Ambon di eks gedung STOVIA ke Kompleks Permata, Cengkareng, Jakarta Barat, akhir Maret 1973. Tak lama setelah itu, giliran warga Ambon di eks gedung Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah kolonial setingkat SMP, yang bertetangga dengan bekas STOVIA yang dipindahkan. Warga Ambon eks STOVIA dan MULO itu menempati tujuh rukun tetangga, yang kemudian dikenal sebagai Kampung Ambon. Waktu itu pemerintah daerah Jakarta menghabiskan Rp 60 juta untuk membangun kawasan tersebut.

Orang-orang Ambon ini masuk ke gedung STOVIA setelah Jepang mengalahkan Belanda pada 1942 dan mulai menjajah indonesia. Saat itu, Jepang menjadikan eks gedung STOVIA sebagai lokasi tempat menahan tawanan perang, para anggota KNIL, tentara Belanda yang berasal dari pribumi, yang sebagian besar warga Maluku. Setelah Indonesia merdeka, tahanan eks KNIL itu dibebaskan.

Dalam perkembangannya, kerabat para veteran KNIL itu ikut menghuni eks gedung STOVIA. Mereka menyulap sebelas bangsal di eks gedung STOVIA menjadi petak-petak hunian dengan cara membuat sekat pemisah dari papan. Satu petak ditempati satu keluarga. Satu bangsal–paling kecil luasnya seukuran lapangan tenis–menampung sedikitnya lima keluarga. Setelah bangsal penuh, penghuni baru mendirikan bangunan mini dari kayu di atas tanah di dalam kawasan tersebut.

Untuk aktivitas ibadah, kata Isnudi, warga Ambon di eks gedung STOVIA menjadikan salah satu bangunan di tengah kawasan itu sebagai gereja. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, mereka memakai kamar mandi bersama. Belakangan, sejumlah warga Ambon di eks gedung STOVIA pindah ke eks gedung MULO dan Derde School di Jalan Kwini. Jarak kedua gedung itu tidak sampai 50 meter. Maka dua gedung itu pun jadi "markas" eks pasukan KNIL beserta keluarganya.

Menurut Ucu Suheri, penduduk yang sudah 30 tahun tinggal di dekat eks gedung STOVIA, saat itu orang Ambon, baik yang di eks gedung STOVIA maupun di MULO, tertutup. Warga sekitar, katanya, tak pernah tahu mata pencarian mereka. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan kerabat sendiri di dalam. Dan mungkin karena inilah banyak beredar aneka cerita tak sedap tentang kebiasaan mereka: suka mabuk-mabukan, pesta, dan narkoba, bikin ribut, serta memalak kendaraan yang kebetulan melintas.

Di kalangan sopir angkutan umum saat itu, kata Ucu, jalan yang melintasi kawasan itu disebut rute setan. "Sebisa mungkin tidak dilewati," kata kakek 68 tahun yang punya empat cucu itu.

Kepada Tempo, seorang pria Ambon yang pernah tinggal belasan tahun di eks gedung STOVIA mengatakan saat itu warga Ambon yang tinggal di sana memang dicap masyarakat sekitar sebagai pembuat onar. Karena sebagian besar tak tamat SMA, ujar dia, mereka sulit mencari pekerjaan.

"Pekerjaannya serabutan. Ada yang jadi preman terminal, kuli pelabuhan, tapi ada juga yang jadi pelaut," ujarnya. "Nah, malak itu kerja sampingan," katanya. Namun ia menggarisbawahi: "Kami tidak menutup diri, tapi saat itu dikucilkan karena dicap bekas antek Belanda."

Gambaran sebaliknya muncul dari seorang perempuan Ambon yang pernah delapan tahun hidup di eks gedung STOVIA. Ia menuturkan soal kekompakan mereka di tempat itu: kecenderungan untuk saling membantu ketika mendapat masalah atau kesulitan ekonomi. Jika ada benturan di antara sesama warga Ambon, Marten Tupessy, tokoh Ambon di tempat itu, akan turun tangan untuk melerai.

Menurut Sandy Pasaneasaia, yang pernah enam tahun tinggal di eks gedung STOVIA, banyak orang memandang keliru warga Ambon di kawasan itu. Tampang, kata dia, boleh gahar-gahar, tapi kelakuannya sebenarnya baik. Kawasan yang dihuni suku lain, ujar Sandy, memiliki problem sosial yang sama, seperti penyalahgunaan narkoba dan budaya mabuk-mabukan. "Orang Ambon dianggap identik dengan kejahatan, padahal tidak semuanya," katanya.

Gambaran tak mengenakkan ini terus bertahan, bahkan terbawa sampai mereka pindah ke permukiman baru di Kompleks Permata. Apalagi, di tahun-tahun awal kepindahan mereka, muncul sejumlah kasus pemalakan oleh sebagian pemuda Ambon di kompleks itu.

Setelah bisnis narkoba marak di kampung itu, aksi kejahatan warga Ambon di sana menjadi susut. Mereka punya mainan baru yang lebih menarik dan lebih cepat mendatangkan uang: bisnis narkoba.

Anton Aprianto, Pramono


Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Untung S. Radjab:
Polisi Terlibat, Saya Pecat

BAGI jenderal polisi bintang dua ini, memberantas narkoba di Kampung Ambon gampang-gampang susah. Gampangnya, kawasan itu sudah lama terdeteksi sebagai sarang narkoba. "Susahnya, jejaring narkoba di sana terlalu kuat," kata Untung S. Radjab kepada wartawan Tempo Anton Aprianto, Pramono, dan Rina Widiastuti, Jumat pekan lalu.

Puluhan kali digelar razia, peredaran narkoba di Kampung Ambon justru tetap marak. Apa yang terjadi?

Tergantung masyarakat di kampung itu, mereka mau menjadi masyarakat yang dipandang baik atau tidak. Upaya razia narkoba di sana justru menunjukkan polisi tidak diam atau membiarkan.

Apa kendalanya?

Polisi tidak bisa bekerja tanpa bantuan warga. Nah, penggerebekan yang berhasil itu yang dibantu masyarakat. Di sisi lain, dana polisi juga terbatas.

Narkoba sudah jadi mata pencarian warga?

Harus ada pendekatan ekonomi. Pemerintah daerah harus menyediakan lapangan kerja untuk mereka. Tidak ada bisnis yang lebih menggiurkan seperti narkoba. Untungnya bisa 100 persen. Begitu dirazia, permintaan akan tinggi karena barang sulit. Harga narkoba akhirnya naik.

Bagaimana dengan jaringan narkobanya?

Jaringannya memang kuat. Ada yang dibangun dari dalam, ada yang terbentuk dari luar.

Artinya, narkoba di kampung itu tak akan bisa dibasmi tuntas?

Tentu bisa. Tidak ada wilayah yang kebal hukum.

Caranya?

Kejahatan itu produk masyarakat. Kalau mau kampung itu bersih dari narkoba, ya, harus sama-sama terlibat. Pemerintah daerah setempat dan tokoh agama juga harus aktif membina mereka.

Kenapa beberapa kali polisi gagal merazia kampung itu?

Kalau orang asing masuk, pasti ada pemberitahuan ke warga di kampung itu. Mereka selalu waspada terhadap orang asing.

Polisi terlibat sehingga rencana razia kerap bocor?

Kalau ada anggota yang terlibat, kami tindak. Kalau anggota saya ketahuan terlibat, saya pecat.

Ada kabar polisi jadi beking bisnis narkoba di Kampung Ambon?

Itu persepsi. Tunjuk saja siapa orangnya.

Direktur Badan Narkotika Nasional Brigadir Jenderal Benny Jozua Mamoto:

Aparat Juga Terlibat

Direktur Penindakan dan Pengejaran Badan Narkotika Nasional Brigadir Jenderal Polisi Benny Jozua Mamoto mengakui peredaran narkotik di Kampung Ambon sulit diberantas. Salah satunya karena ada aparat yang mendukung jaringan narkotik di sana. Kamis pekan lalu, wartawan Tempo Pramono dan Rina Widiastuti mewawancarai Benny di kantornya.

Apa saja yang sudah dilakukan BNN di Kampung Ambon?

Kami membuat program community development untuk menyiapkan penjual narkoba beralih ke kegiatan legal. Itu tak mudah karena pendapatan dari narkoba lebih menggiurkan.

Belakangan BNN tak pernah menangkap bandar narkoba di sana….

Kami tak boleh buru-buru. Orientasi kami adalah jaringan. Kami melihat pasokannya dari mana. Kami berharap, jika pasokan bisa disetop, bandar besar bisa dihentikan.

Seperti apa jaringan di Kampung Ambon?

Barang yang masuk ke Kampung Ambon umumnya dari Iran. Rutenya dari Iran ke Malaysia, masuk Indonesia lewat laut atau penerbangan. Bisa lewat Aceh, terus ke Lampung melalui darat, baru ke Kampung Ambon.

Kualitas barang di sana nomor satu?

Iya. Maka banyak kalangan datang ke Kampung Ambon. Dari kalangan birokrat sampai aparat keamanan. Semua tahu itu.

Apakah aparat hanya sebagai pengguna narkoba?

Sebagian oknum keamanan tidak hanya mengkonsumsi. Ada yang memberi modal, ada yang melindungi, ada juga yang mengawal. Orang-orang itu membuat kami sulit bergerak di sana.

Mereka juga yang menyebabkan razia jarang berhasil?

Operasi dengan target seperti Kampung Ambon butuh kerahasiaan tingkat tinggi. Bandar sudah membangun hubungan dengan oknum aparat itu.

Kira-kira perlu waktu berapa lama untuk membersihkan Kampung Ambon?

Thailand butuh 20 tahun membersihkan ladang opium. Tapi itu wilayahnya luas, jalannya sulit, dan ada perlawanan bersenjata. Kalau Kampung Ambon lebih kecil. Bila dana cukup, bisa lebih cepat.

 Read: 3905 times

Copyright © 2011 MALUKU EYES
by: SCRIPT DIGITAL

Secured by Siteground Web Hosting